Selasa, 03 April 2012

Maknai Terus Sholatmu






"Ya Allah, hanya kepadaMulah aku memohon, hanya kepadaMulah aku berlindung, Engkaulah Yang berkuasa atas hidup dan matiku..."

Adalah kepasrahan dalam menjalani hidup dan menerima segala anugerah sebagai bahagia. Kebahagiaan tertinggi terletak pada puncak kehidupan tertinggi, manusia hadir di bumi untuk melewati fase-fase kehidupan yang telah digariskan, inilah penciptaan sebagaimana ketika Adam As. diturunkan ke Bumi, dari titik terendah hingga kembali mendapatkan kembali kenabiannya.

Berawal dari pertanyaan yang bergelimpangan di kepala: Kenapa harus sholat? paksaan kah atau kerelaan? Atau inilah keharusan kodrati yang harus dijalani? Lalu apa itu 'agama'? Mengapa harus ada Agama? Apakah 'agama' hanya hadir untuk sekedar menakut-nakuti manusia? Maknai terus sholatmu!.

Kebahagiaan tertinggi, kebahagiaan purna bukan semata kesenangan yang sementara, kebahagiaan harus terus berlangsung, kebahagiaan haruslah kekal, kekal, maka kebahagiaan tidak akan ada dimuka bumi ini, sebab tak ada yang kekal di bumi ini. Dimana kebahagiaan? Kebahagiaan yang tidak berlangsung surut adalah surga, inilah janji Tuhan yang harus dicapai oleh manusia. Inilah tujuan.

Bagaimana mencapai kebahagiaan yang tertinggi yang purna yang sempurna itu? Tentu dengan mendapatkan (melaksanakan) tujuan-tujuan 'perantara' untuk mencapai tujuan purna yang sempurna: Kebahagiaan tertinggi. Maknai terus sholatmu!.

Tujuan-tujuan perantara ada dalam perintah dan laranganNya, perintah dari Yang Maha Esa, Sang Pencipta. Allah perintahkan manusia untuk sholat, inilah amalan pertama dan utama setelah perkataan yang pertama: sahadat. Tidak ada perintah yang memberatkan untuk tetap berusaha menjadi rahmat bagi sekalian alam.

Senantiasa manusia memohon rahmat kepada Tuhan, bagaimana mungkin mendapatkan rahmat jika ia tidak terlebih dahulu menjadi 'rahmat'? Apalah guna berkeluh kesah tanpa memohon kepadaNya Yang Maha Kuasa? Apalah guna bangun malam dan sujud jika sholat hanya sebatas ritual dan penanda waktu? Maknai terus sholatmu!.

Manusia dianugerahi dua jalan, ia hidup, ia belajar dari kesalahan, senantiasa kembali pada jalan yang lurus, jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT. Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, yang menerima segala tobat dari umatNya.

Buku ini mengupas tentang makna penciptaan, seakan menceritakan sebuah pengalaman akan pencarian, umat Islam senantiasa memperdengarkan kehadirannya sebagai "Rahmatan lil 'alamin" rahmat bagi semesta alam, bagaimana dapat ia memaknai hidupnya sebagai 'rahmat' jika ingkar terhadap perintah? Sebagaimana satu pertanyaan: apakah mengenakan jilbab adalah kesiapan atau itulah perintahNya?.

Buku ini seakan mengajak pembacanya untuk terus berpikir dan mencari tiap-tiap makna dan senantiasa berbenah. Semoga bermanfaat dan "Maknai terus sholatmu!".


Judul Maknai Terus Sholatmu  
No. ISBN 97989664060 
Penulis Mahmud Muhammad Thaha 
Penerbit Lkis 
Tanggal terbit 2007 
Jumlah Halaman 133 












Jumat, 23 Maret 2012

Berpikir Seperti Nabi

Kembali mempelajari ilmu-ilmu keagamaan setelah cukup lama untuk mempelajarinya adalah semacam mengulang jalan yang sama untuk menikmati pemandangan lingkungan secara detail, dan disetiap detailnya itu adalah permasalahan yang baru dikenal, begitulah kira-kira gambaran tentang perjalanan yang saya rasakan dalam menggali kembali pengetahuan agama, yang pasti saya sering menjadi bingung. Dan ini sangat mengasyikkan bagi saya.

Salah satu usaha saya dalam mengatasi kebingungan-kebingungan yang muncul dalam diri saya adalah membaca buku-buku yang mengupas permasalahan keagamaan, termasuk ketika (pernah suatu kali) saya didesak menemukan jawaban dari pertanyaan saya sendiri (mungkin waktu itu lagi setengah 'sinting': lebih suka bertanya kepada diri sendiri), yaitu mengenai sosok teladan, sosok yang patut jadi panutan bagi saya sendiri dalam memperdalam pengetahuan keagamaan.

Sesaat kemudian saya temukan kisah-kisah Rasulullah SAW. Yang sebagian kecil saja pernah saya dengar sebelumnya, selebihnya hal yang baru bagi saya, dan semuanya sangat mengagumkan, seperti misalnya keteladanan beliau tentang kesabaran yang pada akhirnya memunculkan kearifan dan cara berpikir yang elegan dalam menyelesaikan masalah.

Ada juga satu kisah yang menggambarkan sifat mulia dari Nabi Muhammad, dan cerita ini jadi begitu akrab melekat dalam ingatan saya, begini:  Alkisah, di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.”

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah saw mendatanginya dengan membawakan makanan. Tanpa berucap sepatah kata pun, Rasulullah menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah Muhammad—orang yang selalu ia caci maki dan sumpah serapahi. Rasulullah saw melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah saw praktis tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.
Suatu hari Abubakar berkunjung ke rumah anaknya Aisyah, yan g tidak lain tidak bukan merupakan istri Rasulullah. Ia bertanya kepada anaknya itu, “Anakku, adakah kebiasaan Rasulullah yang belum aku kerjakan?”

Aisyah menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.”
“Apakah Itu?” tanya Abubakar penasaran. Ia kaget juga karena merasa sudah mengetahui bagaimana kebiasaan Rasulullah semasa hidupnya.
“Setiap pagi Rasulullah selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana,” kata Aisyah.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, “Siapakah kamu?”
Abubakar menjawab, “Aku orang yang biasa.”

“Bukan! Engkau bukan ora ng yang biasa mendatangiku,” bantah si pengemis buta itu dengan ketus “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan padaku.”

Abubakar tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah saw.”

Seketika itu juga kaget pengemis itu. Ia pun menangis mendengar penjelasan Abubakar, dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. ” Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar saat itu juga dan sejak hari itu menjadi Muslim.

Demikian sekedar menceritakan sepenggal pengalaman saya dalam pencarian, yang mungkin hanya sebagian kecil dari pembahasan dari buku "Berpikir Seperti Nabi" dimana didalamnya saya menemukan banyak sekali pengalaman baru (dan secara jujur harus saya akui, sebagian besar isinya belum rampung saya pahami). Buku ini memberi cukup gambaran kisah-kisah keteladanan para Nabi, sebagaimana judul bukunya "Berpikir Seperti Nabi: Perjalanan menuju kepasrahan" yang tidak hanya sekedar "sadermo nglakoni" tapi juga lebih dari "madep manteb marang Gusti"

Buku ini berisi tujuh pokok bahasan: Isyarat Nabi dan Doktrin Penciptaan, Mengapa Kita Mengimani dan Meneladani Nabi, Risalah dari Adam sampai Muhammad, Muhammad Penutup Para Nabi, Dari Mu’jizat Kembali ke Ayat, Sunnah Nabi dalam Berfikir, serta Perjalanan Menuju Kepasrahan: Mencari Filsafat, yang  ingin menjelaskan tentang pentingnya kepasrahan, ketundukan akal dalam beragama. Agama hanya berlaku bagi orang yang berakal, dan akal yang baik dalam memahami agama adalah akal yangtunduk kepada Tuhan, Rasul dan Al Qur'an.



Judul Berpikir Seperti Nabi  
No. ISBN 9791283397 
Penulis Fauz Noor 
Penerbit Lkis 
Tanggal terbit Februari - 2009 
Jumlah Halaman 508 

Jenis Cover Soft Cover 
Dimensi(L x P) 130x190mm

Kamis, 22 Maret 2012

Politik berpayung Fiqh

Politik adalah kepentingan, secara umum orang akan mengidentikkannya dengan segala yang gaduh dan kotor setiap kali mendengarnya.

Istilah politik berasal dari kata polis yang berarti negara kota, sehingga istilah politik menunjuk adanya hubungan khusus antar manusia yang hidup bersama. Dalam hubungan itu timbul aturan, kewenangan, legalitas dan kekuasaan.

Menurut Prof.Miriam Budihardjo, politik adalah bermacam-macam kegiatan yang menyangkut penentuan tujuan-tujuan dan pelaksanaan tujuan itu, politik memuat konsep-konsep pokok tentang negara (state), kekuasaan (power), pengambilan keputusan (decision making), kebijaksanaan (policy) dan pembagian (distribution) atau alokasi (alocation).

Sedangkan menurut Ramlan Surbakti mendefinisikan politik sebagai proses interaksi antara pemerintah dan masyarakat untuk menentukan kebaikan bersama bagi masyarakat yang tinggal dalam satu wilayah tertentu.

Dalam pada itu, fungsi politik mencakup beberapa hal yang antara lain:  Perumusan kepentingan, adalah fungsi menyusun dan mengungkapkan tuntutan politik suatu negara; Pemaduan kepentingan, adalah fungsi menyatukan tuntutan kepentingan-kepentingan dari berbagai pihak dalam suatu negara dan mewujudkan sebuah kenyataan dalam berbagai alternatif kebijakan; Pembuatan kebijakan umum, adalah fungsi untuk mempertimbangkan berbagai alternatif kebijakan yang diusulkan oleh partai-partai politik dan pihak-pihak lain untuk dipilih, diantaranya sebagai satu kebijakan pemerintah; Penerapan kebijakan, adalah fungsi melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan oleh pihak yang berwenang; Pengawasan pelaksanaan kebijakan, adalah fungsi menyelaraskan perilaku masyarakat atau pejabat publik yang menentang atau menyeleweng dari kebijakan pemerintah dan norma-norma yang berlaku, atau fungsi mengadili pelanggar hukum (http://gendoetblog.blogspot.com)

Dalam realitas, ketika hanya dapat membicarakan keseharusan yang selalu saja bertabrakan realitas itu sendiri, seringnya masyarakat disodori dengan kenyataan politik yang terkesan penuh dengan skenario dan tak lagi menjalankan fungsinya. Terlebih dalam praksisnya tidak memberi satupun bentuk keteladanan demi kedewasaan masyarakat.

Korupsi, Mark up, dominasi kepentingan seakan mengarahkan masyarakat untuk kembali pada bentuk 'monarki absolut' daripada mengembangkan kehidupan yang demokratis. Inilah fakta betapa masih lemahnya politik Indonesia (pendapat ini dengan senang hati boleh disanggah), sekaligus memperjelas permainan politik yang tidak beretika yang pada akhirnya malah mengorbankan kewibawaan negara.

Membicarakan etika (moral) tentunya ada hal yang tidak boleh dilupakan, dimana moralitas bangsa Indonesia tidaklah sama dengan moralitas bangsa barat (dalam hal ini berkaitan dengan sumber dari moralitas itu sendiri), moralitas yang dimiliki bangsa Indonesia bersumber pada moralitas agama, apapun yang melanggar moral sudah pasti adalah dosa atau minimal tidak diperkenankan oleh agama. Sedangkan moralitas bangsa barat dengan tegas memberi pemisahan antara moralitas agama dengan moralitas sosial.

Dalam buku ini tidak bermaksud untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam, sebab Pancasila sudah disepakati sebagai ideologi negara, kita hanya dapat berusaha untuk selalu berbenah yang tentunya melalui dialog-dialog yang oleh Gus Dur disebut-sebut dengan istilah 'ketegangan kreatif' untuk mencapai sebuah konsensus.


Judul Buku       : Politik Berpayung Fiqh
Penulis              : DR. KH. A. Malik Madaniy, M. A
Penerbit           : Pustaka Pesantren
Cetakan           : Pertama 2010
Tebal                : xiv + 146 Halaman
Peresensi       :Yoehan Rianto P.

Leadership Secrets of Gus Dur - Gus Miek




"Tidak ada kemalangan paling sengsara
Sepanjang takdir manusia,
Kecuali ketika para penguasa di dunia
Tidak menjadi manusia unggul.
Jika itu terjadi, maka segalanya
Menjadi palsu, miring dan mengerikan”
(Nietzsche-Zarathustra)
Pemimpin yang besar adalah mereka yang bisa menerima dan mengorganisir semua manusia (yang dipimpinnya) dengan apa adanya, demikianlah karakter kepemimpinan yang didambakan yaitu pemimpin yang memiliki keunggulan bukan sosok pemimpin yang sebagaimana manusia kebanyakan (kita tidak akan pernah mendambakan seorang pemimpin yang hanya mengekor, lebih-lebih pemimpin yang suka dijilat ataupun gemar mendengar hasutan), pastinya kita mendambakan sosok pemimpin yang benar-benar pemimpin yang patut diteladani.

Wacana kepemimpinan semacam ini sudah berlangsung cukup lama, enam ratus tahun sebelum Masehi muncul satu pertanyaan penting yang mengawali lahirnya filsafat politik yang juga membicarakan tentang persoalan 'kepemimpinan' ini, pertanyaannya: "apa yang lebih baik bagi negara, adanya pemimpin yang baik, atau sistem hukum yang baik?. Dari pertanyaan inilah muncul beberapa tokoh pemikir dengan gagasan-gagasannya tentang sosok pemimpin, mungkin yang cukup dikenal adalah Niccolo Machiavelli yang gagasannya hingga saat ini masih juga dianggap 'nyleneh' dan sinis karena menganjurkan kepada penguasa untuk bertindak kejam.

Orang mengatakan gagasan Machiavelli 'nyleneh' sebab belum mengetahui latar belakang dari lahirnya gagasan tersebut, kecenderungan manusia kebanyakan adalah mudah menimpakan vonis. Begitupun yang terjadi dan dialami oleh Gus Dur dan Gus Miek, Gus Miek adalah pemimpin spiritual bagi kalangan akar rumput di tanah Jawa, sementara Gus Dur adalah pemimpin yang pernah menjadi tokoh nomor satu di negeri ini. Jika Gus Dur memilih berkiprah di tingkat nasional maka Gus Miek lebih memilih berdakwah di lembah hitam kemaksiatan, mulai dari diskotek, arena perjudian, hingga lokalisasi.

Dari buku ini kita bisa menemukan deskripsi dan gambaran sederhana tentang kepemimpinan yang pernah dipraktekkan oleh Gus Dur dan Gus Miek yang tidak cukup hanya dengan mengandalkan kecerdasan tapi juga keberanian untuk melakukan dobrakan-dobrakkan terhadap segala yang timpang, tentu pemimpin yang baik akan berusaha memperbaiki sistem hukum dan memberi keteladanan untuk mempersiapkan sosok-sosok pemimpin masa depan adalah tugas mulia yang maha berat, hal ini pula yang selalu menempatkan Gus Dur dan Gus Miek sebagai tokoh yang kontroversial demi usaha mereka untuk mewujudkan masa depan Indonesia yang berkarakter.

 Judul Buku : LEADERSHIP SECRETS OF GUS DUR - GUS MIEK
Penulis : M. N. Ibad
ISBN 10 : 979-8452-92-5
ISBN 13 : 978-979-8452-92-5
Halaman : 218 hlm
Kertas & Ukuran : Book Paper/HVS & 12 x 18 cm
Cetakan : I, Desember 2010
Katagori : Leadership/Kepemimpinan
Penerbit : PUSTAKA PESANTREN Yogyakarta
Harga : Rp. 35.000,-